Lompat ke isi

Pamainan Tradisional Koa

Dari Wikibuku

Koa merupakan permainan kartu tradisional yang sudah ada sejak lama, dahulu permainan ini populer di kalangan masyarakat Malaysia, Singapura dan Indonesia. Menurut sejarah, permainan kartu koa diduga berasal dari permainan kartu yang pernah dimainkan di wilayah Tiongkok kuno. Bahkan permainan kartu koa diduga merupakan sumber dari permainan mahjong yang kini menjadi tren di kalangan masyarakat Tionghoa di banyak negara di dunia.

Di Minangkabau sendiri, koa atau ceki dianggap sebagai permainan anak nagari, biasanya dimainkan sebagai hiburan pada waktu luang di lapau /warung dan bahkan sering dimainkan di rumah orang Baralek (pesta). Meski permainan ini sering diasosiasikan ada unsur judi, mereka lebih suka menyebutnya permainan ber-adat (main baradaik), bermain untuk bersenang-senang dan mempererat tali silaturahmi. Permainan ini biasanya dimainkan setiap ada acara kumpul-kumpul yang melibatkan kaum bapak-bapak.

Meski permainan ini sering disamakan dengan judi, namun tidak sedikit yang berpendapat bahwa Ceki atau koa ini juga termasuk judi. Mereka lebih suka menyebutnya permainan ber-adat (main baradaik), bermain untuk bersenang-senang dan mempererat silaturahmi (pertemanan).

Cara bermain Koa

[suntiang | suntiang sumber]

Koa bisa dimainkan oleh 2-6 orang. Namun di Minang, biasanya dimainkan oleh 4 orang. Dibagi menjadi dua tim dan setiap tim beranggotakan 2 orang. Rekan satu tim disebut mandan. Anggota tim harus dapat bekerja sama dengan mandannya. Oleh karena itu, anggota tim biasanya memilih orang yang sangat berpengalaman atau dekat dengannya untuk dijadikan mandan. Karena biasanya Mandan lah yang paling tahu coki teman mainnya.

180 kartu digunakan dalam satu permainan (3 set/lakon). 1 set kartu berisi 10 kartu yang berbeda. Jadi ada 30 jenis kartu dalam satu permainan. Setiap kartu memiliki namanya sendiri. Oleh karena itu, hal pertama yang perlu dipelajari untuk bermain koa adalah kenal dan hafal jenis kartunya.

Sedikit ribet dan membingungkan memang untuk dipelajari. Namun memang kartu ini bukan untuk dipelajari, tapi dimainkan. Didalam bermain ceki atau koa terdapat bermacam-macam peraturan yang hanya berlaku dibeberapa tempat, peraturan ini biasanya disepakati bersama-sama.

1.Peraturan tidak bebas: - Tidak dibolehkan ceki dengan hiu (tidak boleh klorok hiu untuk sampai) untuk mata atau kaki boleh dengan hiu. - Kartu hiu yang ada ditangan yang ingin dibuang diperbolehkan tanpa terikat atau takabek oleh lawan yang ingin memakannya. - Ketika gantung, atau sudah batu dua kali tidak boleh memakan atau memegang hiu. - Saat main kabek atau terikat Ketika kartu yang kita buang dimakan lawan dan saat mencabut kita dapat kartu yang persis sama maka kita tidak bisa membuangnya.

2. Peraturan bebas: - peraturan bebas boleh menggunakan semua kaartu untuk coki - Ketika gantung, boleh koa dengan semua kartu - kartu yang telah di buang dan dimakan oleh lawan tidak dapat membuangnya lagi (takabek/terikat) sampai pemain tersebut koa baru bebas membuang kartu yang telah terikat tersebut.

Selain itu, permainan Koa juga dipercaya memiliki unsur strategi dan psikologi yang penting. Pemain harus pandai membaca gerak-gerik lawan dan membuat keputusan yang tepat untuk memenangkan permainan. Hal ini membuat permainan Koa menjadi menarik dan populer di kalangan masyarakat Minangkabau.